Diskusi & Bedah Buku “Kenal,Dekat,Akhirnya Jatuh Cinta Pada Al-Qur’an”Karya Hana Hanifah, Ilmu Sejarah 2015

14 Oktober 2016 Departemen Media dan Informasi Himse Unpad mengadakan acara diskusi dan bedah buku yang merupakan karya dari mahasiswa Ilmu Sejarah 2015 dengan judul buku Kenal, Dekat, Akhirnya Jatuh Cinta Pada Al-Qur’an. Acara ini bekerjasama dengan penerbit Quanta Elex Media .Acara ini adalah bentuk apresiasi dengan harapan bisa memberikan semangat kepada masyarakat sejarah lainnya untuk berkarya.

Acara diskusi dan bedah buku ini diselenggarakan di aula gedung D FIB Unpad mulai dari pukul 8.00 sampai pukul 11.00. Moderator acara tersebut adalah teh Sofi Solihah angkatan 2013, dua orang pembedah buku yaitu Dr. R.M. Mulyadi dan Rio Alfajri dari FISIP, dan tentunya Hana Hanifah sebagai pembicara yang menyampaikan isi bukunya.

Diselang acara juga ada doorprize berhadiah buku untuk peserta yang menjawab pertanyaan. Dan dua pertanyaan berhasil dijawab oleh Siti Maemunah dari Ilmu Sejarah 2014 dan

Iklan

HIMSE BERTANDING 2016

Departemen Hubungan Sosial HIMSE Unpad mengadakan kegiatan “Himse Bertanding 2016” yang diselenggarakan pada tanggal 18-21 November 2016. Acara ini merupakan acara tahunan HIMSE di mana diadakannya wisata dan studi banding sesuai dengan kepanjangan “Bertanding” yaitu Berwisata dan Studi Banding. Tujuan Studi Banding kali ini adalah Himpunan Mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Diponegoro.

Seperti biasa, di dalam acara studi banding tersebut ada pemaparan dari kedua Himpunan. Pertama pemaparan HMJ Sejarah oleh ketua dan wakil ketua HMJ Sejarah Undip yang disambung pemaparan departemen, proker, dan jobdesk oleh sekretaris,bendahara,dan para kepala departemen. Selanjutnya ada pemaparan tentang HIMSE oleh ketua dan wakil ketua HIMSE dilanjut pemaparan departemen,proker,dan jobdesk oleh sekretaris,bendahara,dan para kepala departemen. Setelah pemaparan dari kedua himpunan tersebut selesai, diadakanlah diskusi. Dengan diadakannya studi banding ini, selain menjalin tali silaturahmi juga mengambil pelajaran untuk HIMSE ke depannya yang lebih baik lagi.

Selanjutnya berwisata ke Makam Raja – Raja Mataram di Imogiri, Candi Prambanan, dan Candi Ratu Boko. Untuk sampai ke area pemakaman tersebut, kita harus menaiki 400 anak tangga dan dipandu oleh juru kunci makam tersebut. Untuk mencapai makam yang lebih atas, pengunjung harus menggunakan pakaian adat jawa dan tanpa alas kaki.

Kemudian perjalanan berwisata dilanjutkan ke Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko. Seperti yang kita tahu, kedua Candi tersebut memiliki nilai historis masing – masing dan memiliki nilai estetika. Selain mengagumi keindahannya, kita sebagai sejarawan sejatinya mengetahui sejarah panjang dari kedua tempat bersejarah tersebut.

 

 

 

#HIMSEBERTANDING2016

-HIMSE KABINET MASAGI-

(FB).

HIMSE SCHOOL 2016

Pada tanggal 9 November 2016, Departemen PSDMO  Himse Unpad  mengadakan acara “Himse School 2016″yang bertempat di Student Center FIB Unpad. Himse School ini memberikan kesempatan untuk mahasiswa sejarah angkatan 2014 sampai 2016 mencari pengalaman dalam berorganisasi di Himse. Siswa Himse School nanti akan magang selama satu bulan di Departemen yang diinginkan. Tujuan dari acara ini adalah untuk mengkader penerus Himse dengan melibatkan langsung para siswa Himse School dalam setiap kegiatan Departemen tempat mereka magang yang nantinya para siswa Himse School memiliki gambaran tentang Himse pada umumnya dan khususnya Departemen tempat mereka magang.

Di tanggal tersebut, Ketua Himpunan Abdul Muhyi T dan M.Maulana Yusuf memaparkan tentang Himse. Dilanjutkan pemaparan departemen dan program kerja oleh sekretaris,bendahara,dan para kepala departemen.Selain itu, siswa Himse School diberi formulir untuk diisi agar nantinya kita tahu mereka akan magang di departemen mana dan diarahkan ke kepala departemen tempat siswa Himse school tersebut magang.

 

#HimseSchool2016

 

-KABINET MASAGI-

 

(FB).

Tapak Tilas 10 November 1945

Setiap tahun kita memperingati hari pahlawan pada tanggal 10 November. Ya, hari tepat hari ini adalah hari pahlawan. Berbicara soal pahlawan, ada baiknya kita terlebih tahu siapa yang disebut dengan pahlawan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Selain itu adalah seorang pejuang yang gagah berani. Pahlawan memiliki sifat ksatria karena membela kebenaran. Tidak hanya membela kebenaran, tapi juga merubah keadaan menjadi lebih baik.

Namun apa hubungannya pahlawan dengan 10 November ? Pada hari ini 71 tahun yang lalu terjadi pertempuran di Surabaya dan pada saat itu banyak pahlawan yang gugur. Pertempuran yang melibatkan antara rakyat Surabaya dan sekutu ini adalah ajang untuk mempertahankan kemajuan – kemajuan yang telah dicapai oleh Republik.

Sebelum terjadinya pertempuran, sering terjadi perkelahian antara kelompok militan pemuda Surabaya dengan pemuda – pemuda Belanda. Para pemuda Surabaya ini begitu pemberani sehingga mereka melakukan mobilisasi pertama terhadap Jepang, karena Surabaya pada saat itu adalah Pangkalan Angkatan Laut Jepang. Sehingga amunisi dan senjata Angkatan Laut dan Angkatan Darat berada di tangan Indonesia pada minggu pertama bulan Oktober.

Adanya perbedaan pendapat yang mana pemerintah Indonesia sebisa mungkin menghindari pertempuran dengan pemuda Surabaya yang sudah tidak mengkompromi kehadiran sekutu. Tanggal 25 Oktober 1945 Brigjen A.W.S. Mallaby mendarat di Surabaya. Ia disambut oleh TKR dan ia berjanji tidak akan membantu NICA. Namun ia membantu pembebasan Huijer.Para pemuda Surabaya berpikiran untuk tidak berunding dengan sekutu karena terlihat jelas sekutu tengah mempersiapkan Belanda untuk kembali “mengasuh” Indonesia.

Adanya tembak-tembakan yang dilancarkan pemuda Surabaya setelah terjadinya gencatan senjata dan menewaskan Brigjen A.W.S.Mallaby merupakan pukulan bagi Sukarno dan Inggris. Kemudian Sukarno menyerukan untuk menghentikan pertempuran tersebut. Namun pada akhirnya Sukarno tidak bisa berbuat banyak ketika rakyat Surabaya semakin memberontak.

Insiden bendera yang menyulut kemarahan rakyat Surabaya dan Indonesia pun terjadi. Bendera Belanda sengaja dinaikkan di atas hotel Yamato. Kemudian ada beberapa pemuda yang pemberani untuk merangsek masuk dan merobek warna biru dari bendera Belanda yang akhirnya bendera tersebut tinggal berwarna merah putih.

Pertempuran di Surabaya ini sangat hebat. Pertempuran ini adalah bentuk kesetiaan rakyat Surabaya terhadap Indonesia yang baru saja memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Jika pemuda pada saat itu bersikap tak acuh, mungkin saja Belanda masih bercokol di Indonesia.

Hal yang perlu kita lakukan dalam rangka memperingati hari pahlawan ini adalah dengan selalu memiliki semangat untuk melakukan perubahan yang dimulai dari diri sendiri. Walaupun perubahannya kecil, jika dilakukan terus menerus akan berdampak besar. Semangat juang para pemuda masa lalu baiknya kita reflesikan dalam kehidupan kita. Kita tidak perlu bertempur, tapi dengan adanya kesadaran untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik menjadikan pula Indonesia lebih baik.

 

-HIMSE KABINET MASAGI-

(FB).

 

 

Jadilah Muda, Cerminan Masa Depan Bangsa : Refleksi Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928

 

Meski tubuh negara Indonesia belum hidup sepenuhnya, namun semangat para pemuda untuk menegakkan merah putih telah berkibar di angkasa. 28 Oktober 1928, kita coba kembali ke masa di mana semangat pemuda begitu luar biasa.

Tahun 1928, Negara Indonesia belum terbentuk, namun semangat untuk memersatukan Indonesia telah hadir ketika itu, di tengah-tengah podium Kongres Pemuda II 1928, melalui Sumpah Pemuda.

Jika kita perhatikan apa yang ada dalam Sumpah pemuda, sebenarnya belum bisa dikatakan pasti apa isi susunan kata yang ada di dalamnya. Dan bahkan dinyanyikannya lagu Indonesia Raya untuk pertama kali ketika itu pun masih mesti dipertanyakan. Ada pendapat yang menerangkan bahwa Kongres Pemuda II merupakan saat di mana lagu Indonesia raya pertama kali dinyanyikan. Namun ada juga yang berpendapat bahwa ketika itu, bukanlah lagu secara utuh yang dinyanyikan, tapi hanya alunan melodinya saja yang dimainkan langsung oleh W.R. Supratman.

Kembali ke Sumpah Pemuda tadi, meskipun teks asli belum bisa kita lihat, namun semangatnya haruslah kita rasakan. Orang-orang yang hadir ketika Kongres Pemuda II itu adalah pemuda-pemuda aktif yang berusia sekitar 20 sampai 30 tahun. Dan mereka sudah memiliki banyak kegiatan di berbagai organisasi, bahkan memimpinnya.

Ketika memimpin Sumpah Pemuda tersebut, Sugondo Djojopuspito masih berusia 24 tahun. Muhammad Yamin berusia 25 tahun, J. Leimena dari Jong Ambon berusia 23 tahun, Mohammad Roem dari Jong Islamieten Bond berusia 20 tahun, dan bahkan Johanna Tumbuan dari Jong Sulawesi berusia 18 tahun.

Kita coba lihat ke pemuda di zaman sekarang. Apa yang mereka lakukan di usianya yang ke 20 tahun? 18 tahun? Bahkan 23 tahun? Masih banyak di antara mereka yang bahkan hidupnya masih santai-santai, bermain-main, tak punya target hidup apapun, bahkan banyak yang setelah lulus kuliah pun masih belum menemukan jati dirinya.

Maka, perlulah kita belajar dari sejarah, belajar dari Sumpah Pemuda, belajar dari pemuda-pemuda di zaman dulu. Dengan fasilitas yang semakin lengkap, dan segala sesuatu yang bisa didapatkan lebih mudah, maka semestinya kita menjadi pemuda yang lebih produktif dan lebih maju dari pemuda di zaman dulu.

Susun target hidup dari sekarang, dan mulailah action sejak hari ini. Latihlah diri kita untuk lebih peka terhadap sekitar dan lingkungan kita, agar kita bisa lebih memahami apa yang harus kita lakukan, dan apa yang harus kita selesaikan. Karena sejatinya masa depan Negara Indonesia bukan berada di tangan pemimpin-pemimpin kita yang semakin hari semakin tua. Namun di tangan kita seorang pemuda.

(Hana Hanifah)

DISKUSI MEMPERINGATI HAK ASASI SATWA SEDUNIA

 

diskusi-2

12 Oktober 2016 lalu Departemen PSDMO mengadakan diskusi dan pemutaran film dokumenter dalam rangka memperingati hak asasi satwa sedunia. Diskusi ini diselenggarakan di Sekretariat Himse dengan pembicara Budi Gustaman,M.A. Diskusi ini cukup menarik karena hewan juga mempunya hak asasi sama seperti kita.

Sebelum diskusi dimulai, moderator terlebih dahulu memutar beberapa film dokumenter yang membahas penindasan hewan oleh pemiliknya di peternakan – peternakan. Di dalam film tersebut diperlihatkan bagaimana beberapa peternak menindas hewan ternaknya seperti sapi yang dipaksa untuk diperah susunya padahal sapi itu kekurangan makan dan kurang istirahat, bahkan ada sapi yang matanya sengaja dicukil agar menurut kepada tuannya. Di tempat peternakan ayam banyak ayam yang tersiksa karena terlalu sering disuntik sejenis penggemuk badan sehingga ayam tersebut tidak bisa berjalan. Kandang ayamnya pun sangat kotor dan sesak karena ribuan ayam dipaksa untuk berjejalan. Belum lagi biri-biri yang dikuliti padahal masih hidup. Ini merupakan suatu kekejaman terhadap hewan.

Kang Budi membuka diskusi dengan menayangkan power point-nya yang membahas bahwa sejak zaman kolonial pun masyarakat Jawa Barat khususnya Priangan kurang memiliki kesadaran untuk menyayangi hewan walaupun memang tidak semua daerah Priangan memusuhi harimau. Hewan yang pada saat itu sangat ditakuti adalah harimau karena harimau sering memakan korban jiwa. Hingga pemerintah Hindia Belanda memberi upah siapa saja yang menangkap hewan buas akan diberi upah. Bahkan ada tontonan gladiator antara harimau dengan kerbau. Harimau disimbolkan sebagai Belanda sedangkan kerbau disimbolkan dengan pribumi. Mereka mencari cara sedemikian rupa agar kerbau mengalahkan harimau.

Akhir-akhir masa kolonial masuk suatu paham dari Eropa untuk melestarikan binatang dan menjaga binatang. Gerakan ini menyadarkan kita bahwa hewan pun memiliki hak asasi. Mereka tidak boleh disakiti, diberi makan dan istirahat yang cukup. Contohnya adalah kuda. Kuda tidak boleh dipecut berkali-kali karena kuda akan kesakitan.

Hingga kini masih ada orang yang tidak memenuhi hak asasi hewan seperti penyelundupan burung kakatua yang dimasukkan ke dalam botol air mineral, matinya gajah di kebun binatang Bandung, orang utan yang dijadikan pekerja seks, dan masih banyak lagi.

Namun banyak juga yang sudah memiliki kesadaran bahwa hewan pun memiliki hak mereka. Tapi fenomena dewasa ini adalah hewan yang terlalu dimanjakan. Hewan – hewan yang melakukan perawatan dengan kocek yang tidak sedikit, tidur dengan pemiliknya, atau bahkan pemilik hewan tersebut lebih mengalah dengan hewan peliharaannya. Terlepas dari itu semua, hewan memang memiliki hak asasi tidak hanya manusia. Namun seharusnya hewan diperlakukan dengan sewajarnya. Kita juga tidak boleh berlebihan dalam memperlakukan hewan kesayangan kita.

 

 

 

 

 

-KABINET MASAGI-

 

 

(FB).

PS2 2016 :Bergerak Bersama Melukiskan Sejarah

Siapa yang tidak tahu dengan PS2 ? Semua mahasiswa sejarah Unpad pasti tahu acara tahunan satu ini. Ya, Pengenalan Studi Sejarah atau sering disebut PS2 adalah hajatan setiap tahun untuk menyambut mahasiswa baru prodi Ilmu Sejarah Unpad. Semua mahasiswa sejarah Unpad pun pasti memiliki kesan tersendiri dengan PS2.

PS2 kali dimulai dari tanggal 10 September 2016 dan selesai tanggal 8 Oktober 2016 dengan tiga kali pertemuan. Dalam setiap pertemuannya, seperti biasa ada pengkondisian pramuda di depan FIB. Dalam rangkaian PS2 ini banyak hal yang dikenalkan kepada pramuda baik itu lingkungan FIB, dosen – dosen sejarah, Himse, DPA, UKM Himse, Serah, dan masih banyak lagi.

Di pertemuan pertama tanggal 10 September 2016, sebelum memulai acara PS2 2016 terlebih dahulu ada opening ceremony dan acara PS2 dibuka oleh Kaprodi Ilmu Sejarah, Dr. Dade Mahzuni. Selain Kaprodi Sejarah yang memberi sambutan sekaligus pembukaan PS2, ada juga sambutan dari Ketua Pelaksana PS2 2016 Raka Yulinda dan Ketua Himpunan Abdul Muhyi Tajudin. Pramuda dikenalkan kepada para dosen sejarah, Masyarakat Sejarah Indonesia Cabang Jawa Barat, perkenalan DPA, perkenalan Himse, dan perkenalan panitia PS2 2016.

 

Pertemuan kedua PS2 2016 tanggal 24 September 2016, pramuda kembali dikenalkan dengan kakak tingkat Ilmu Sejarah dan dikenalkan pula dengan ukm yang ada di Himse. Selain itu, dalam rangka mengasah kemampuan berdiskusi, pramuda diajak untuk berdiskusi dalam sesi konferensi diskusi. Tidak ketinggalan ada pemilihan ketua angkatan. Seperti yang kita tahu ketua angkatan itu penting karena ia adalah sebagai penyambung antar angkatan.

pemilihan-ketua-angkatan-2
Pemilihan Ketua Angkatan 2016

 

Pertemuan ketiga PS2 2016 diadakan tanggal 8 Oktober 2016. Pertemuan inilah merupakan puncak rangkaian PS2 2016 yaitu pramuda disematkan syal kebanggaan yaitu syal dan jaket Himpunan Mahasiswa Sejarah yang menandakan pramuda telah diterima sebagai keluarga baru Himpunan Mahasiswa Sejarah. Penyematan syal dan jaket himpunan ini dilakukan setelah rangkaian acara sebelumnya seperti penjelajahan kampus Unpad, materi team building dan perkenalan Serah, materi all about Himse, pos-posan games, dan pentasi seni pramuda 2016. Acara PS2 2016 ini ditutup dengan makan besar bersama seluruh masyarakat sejarah dan serah.

Kami dari Himse Unpad mengucapkan selamat datang dan selamat bergabung di keluarga besar Himpunan Mahasiswa Sejarah. Lukiskan sejarah kalian di kampus tercinta ini sesuai dengan jargon PS2 2016 “Bergerak Bersama Melukiskan Sejarah”.

 

 

-KABINET MASAGI-

 

(FB).

Diskusi dan Bedah Buku “Kenal, Dekat, Akhirnya Jatuh Cinta Pada Al-Qur’an”

“Orang boleh sepandai apapun, tapi selama ia tidak menulis, maka ia akan hilang dalam sejarah” -Pramoedya Ananta Toer.

Menulis merupakan aktivitas untuk mengasah ilmu, wawasan serta kepekaan seseorang. Jika peluru bisa menembus satu kepala manusia, pena melalui tulisan justru mampu menembus beribu-ribu kepala manusia yang membacanya.

Jum’at kemarin, 14 Oktober 2016 Himpunan Mahasiswa Sejarah Universitas Padjadjaran yang bekerja sama dengan penerbit Quanta, Elex Media Komputindo telah mengadakan sebuah acara Diskusi dan Bedah Buku “Kenal, Dekat, Akhirnya Jatuh Cinta Pada Al-Qur’an” yang merupakan karya pertama dari mahasiswa Ilmu Sejarah semester III, Hana Hanifah.

Meskipun baru menginjak dunia perkuliahan, namun ia telah mampu membuktikan bahwa sudah semestinya generasi muda Indonesia itu produktif dan mampu menghasilkan karya. Bahkan hasil dari kerja kerasnya selama ini, mulai dari berusaha untuk membagi waktu, antara kuliah, organisasi, menulis dan kegiatan lainnya, serta mencari data-data sebagai bahan tulisannya kini telah berbuah dan nyata di depan kita.

14-10-bedah-buku_58
Moderator: Sofi Solihah (Ilmu Sejarah 2013), dan ketiga pembicara

Selain menghadirkan Hana Hanifah sebagai penulis buku tersebut, acara itu juga menghadirkan pembicara lain yaitu Dr. R.M. Mulyadi yang merupakan dosen sekaligus kepala pascasarjana Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran dan Rio Alfajri, mahasiswa Unpad yang aktif dalam berbagai kegiatan juga seorang penulis.

14-10-bedah-buku_113
Hana Hanifah, Rio Alfajri, Dr. R.M. Mulyadi dan moderator, Sofi Solihah berfoto bersama

Semoga lahirnya satu karya ini menjadikan Hana Hanifah tetap istiqomah untuk selalu berusaha menerbarkan kebaikan, mampu mencetak karya-karya selanjutnya, juga menjadi sebuah pembelajaran bagi kita semua untuk berusaha menggapai apa yang kita inginkan.

14-10-bedah-buku_125
Panitia acara dan keluarga HIMSE

Seminar Buku Serdadu Belanda di Indonesia 1945 – 1950

Tanggal 19 September 2016 di Aula Pusat Studi Bahasa Jepang diselenggarakan Studium Generale berbasis buku Serdadu Belanda di Indonesia 1945 – 1950 karya Prof Gert Oostindie yang merupakan direktur KITLV dan guru besar sejarah di Universitas Leiden, dan Kunto Sofianto,Ph.D. sebagai moderator. Acara ini dimulai pukul 14.30 WIB dan berakhir pukul 15.30 WIB.

seminar

Peserta dari seminar ini adalah mahasiswa sejarah Universitas Padjadjaran dan dosen – dosen sejarah Universitas Padjadjaran. Walaupun pembicara datang terlambat tapi tidak mengurangi antusias peserta seminar. Selain Prof. Gert Oostindie sebagai pembicara dan Kunto Sofianto,Ph.D. sebagai moderator , ada pula Ireen Hoogenboom,M.A. sebagai penerjemah.

Prof. Gert Oostindie memaparkan isi bukunya dengan menggunakan bahasa Inggris. Buku tersebut memaparkan pengalaman dan kenangan para militer yang bertugas di angkatan perang Belanda di Indonesia antara tahun 1945 dan 1950. Buku ini didasarkan pada berbagai surat, buku harian, buku kenangan, dan memoar para militer Belanda yang bertugas di Indonesia pada saat itu.

Ia memaparkan adanya perbedaan persepsi antara Indonesia dan Belanda. Perspektif Indonesia adalah pada rentang tahun 1945-1950 adalah tentang lahirnya Republik Indonesia sebagai perjuangan heroik sekelompok suku bangsa yang bersatu untuk kemerdekaan yang dipimpin oleh Soekarno dan TNI. Berbeda dengan Belanda yang memiliki persepsi bahwa rentang tahun 1945-1950 orang – orang Eropa menderita selama pendudukan Jepang (1942-1945) dan periode bersiap (akhir 1945 – awal 1946). Selanjutnya adalah upaya dekoloniasasi sesuai dengan cara yang diinginkan Belanda. Kemudian pada tahun 2005 pemerintah Belanda memberikan pernyataan simbolis mengenai kemerdekaan Indonesia.

 

 

 

-KABINET MASAGI-

 

 

“HIMSE BERBAGI” di Momen Idul Adha

Momen Idul Adha memang merupakan momen yang pas untuk kita berbagi dengan sesama. Departemen Hubungan Sosial, Himse UNPAD memanfaatkan momen berharga ini untuk turut terjun ke masyarakat dalam acaranya “Himse Berbagi”. (12/9)

Himse Berbagi ini adalah modifikasi dari program kerja Himse ke Desa tahun kemarin. Dengan memanfaatkan momen idul adha, beberapa pengurus Himse, dan juga anggota Himse lainnya turut terjun ke masyarakat dan menyumbangkan satu ekor domba sebagai sedekah hasil dari patungan beberapa angkatan Ilmu Sejarah.

Rangkaian acara Himse Berbagi ini meliputi shalat Idul Adha bersama warga di RW 01, Cileles, Jatinangor, Sumedang. Lalu dilanjutkan dengan menyaksikan pemotongan hewan Qurban, pengurusan, dan pembagian hasil potongan Qurban. Untuk sistem pembagiannya, Himse memberikan sepenuhnya kepada masyarakat sekitar.12_9_16-himseberbagi_26

Selain berbagi dalam bentuk hewan tadi, Himse juga memberikan sedekah beberapa buku agama islam, Iqro’, dan sebagainya untuk masjid atau lembaga pendidikan anak-anak non formal di daerah tersebut. “Karena kebetulan di sana, masjidnya baru dibangun. Jadi kami pikir mereka pasti membutuhkan beberapa buku dan alat belajar untuk pengajian anak-anak daerah tersebut.” Ujar Fajar Siddiq, kepala departemen Hubungan Sosial Himse Unpad.

Acara tersebut berjalan dengan lancar dan sesuai dengan target yang telah direncanakan. Karena target tersebut tak lain bahwa Himse ingin berbagi dengan masyarakat dan hal itu terlaksana juga tepat sasaran. (HH)12_9_16-himseberbagi_24